BLOG INI pada awalnya berisi Kutipan / Kata Mutiara / Kata-kata Bijak (quotations), Ringkasan (summaries), dan Pemahaman (insights). Dalam perkembangan selanjutnya diisi dengan artikel-artikel singkat. Silakan klik di sini... untuk kembali ke BLOG UTAMA.

20 Desember 2012

Takut Berharap Lebih

Setelah dikhianati suaminya, seorang istri berkata: "Sekarang saya tidak lagi berharap banyak kepadanya. Tidak berharap diperhatikan, diberi hadiah ulang tahun, ditelepon jika ia dinas ke luar kota. Saya sudah banyak dikecewakan. Jadi, saya tidak lagi mau menggantungkan harapan kepadanya."

Ketakutan dikecewakan lagi telah membuat sang istri menurunkan harapannya terhadap sang suami. Ia takut berharap lebih.

harapan

Berharap banyak pada manusia memang bisa mengecewakan, seperti pengalaman seorang istri tadi. Manusia tidak bisa kita andalkan. Akan tetapi, Tuhan berbeda.

Kuasa-Nya luar biasa bagi kita. Jadi, taruhlah seluruh harapan masa depan Anda kepada-Nya. Mulai dari studi, pekerjaan, jodoh, keluarga, sampai pemeliharaan Tuhan di masa tua.

Walau tak semua kemauan kita Tuhan turuti, tetapi yang kita butuhkan pasti Dia beri. Jangan takut berharap lebih! —JTI

Harapan itu ibarat sauh. Agar bidukmu tak terombang-ambing, tancapkan sauh dengan teguh.

* * *

Sumber: e-RH, 28/3/2011 (dipersingkat)

==========

10 Desember 2012

Keberuntungan

Sebagian orang percaya ada hari baik dan hari buruk. Maka, jika mereka akan mengadakan acara besar, seperti pernikahan atau peresmian gedung, mereka harus melakukan perhitungan hari lebih dahulu supaya diselenggarakan pada hari baik.

Ada juga orang yang percaya bahwa benda, angka, dan warna tertentu akan mendatangkan keberuntungan. Oleh karena itu, jika mereka mengadakan acara, semuanya disesuaikan dengan hal-hal tersebut supaya beruntung.


Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, kita harus hati-hati dengan sistem kepercayaan tentang keberuntungan yang tidak sesuai dengan Kitab Suci.

Jalan hidup seseorang semata-mata ada di tangan Tuhan, tidak ditentukan oleh hari, angka, warna, benda tertentu, atau apa pun. Bahkan, tidak juga ditentukan oleh simbol-simbol keagamaan tertentu atau benda-benda yang dianggap "rohani".

Yang harus kita lakukan hanyalah hidup taat dan dekat dengan-Nya senantiasa. Dalam hidup yang demikian, Tuhan akan melimpahkan berkat-Nya secara utuh —jasmani dan rohani— sesuai dengan kemurahan dan kebijaksanaan-Nya. ~ALS

Keberuntungan dan jalan hidup kita semata-mata ada di tangan Tuhan.

* * *

Sumber: e-RH, 26/3/2011 (dipersingkat)

==========

30 November 2012

Perbedaan Facebook dan Twitter

Do you know the difference between Facebook & Twitter? Facebook is for people I normally see. Twitter is for people I wish I could see.

Seorang teman bertanya: Bisa lebih dijelaskan lagi "people I wish I could see"?

Ini jawaban saya: Mau tahu tentang Hartati Murdaya, Aburizal Bakrie, Boediono, Miranda Goeltom, Abraham Samad, Jokowi, dan tokoh-tokoh lain? Sebagian besar dari mereka punya akun twitter pribadi.

Misalnya saja, kita ingin tahu lebih banyak tentang Teten Masduki yang maju sebagai cawagub Jabar mendampingi Rieke "Oneng" Pitaloka. Bisa baca rangkaian twit di bawah ini (yang sudah dibuat chirpstory – dikelompokkan tersendiri per topik).

"Mengenal Sekilas Sosok Teten Masduki" by @GingGinanjar

Ditulis oleh orang yang kenal Teten Masduki secara pribadi.

==========

12 November 2012

Mencari Kehendak Tuhan

Kalimat yang berbunyi: “Itu memang kehendak Tuhan”, atau “Semuanya itu datangnya dari Tuhan”, sering meluncur dari mulut orang percaya.

Kalimat-kalimat itu sungguh bagus, sebab mengungkapkan pengakuan akan kuasa Tuhan yang bekerja dalam kehidupan.

Meskipun demikian, ternyata juga dapat kehilangan makna yang sesungguhnya ketika diucapkan hanya sebagai basa-basi belaka. Atau bahkan disalahgunakan; dengan mengatasnamakan Tuhan, ingin memaksakan pendapat sendiri.

Dalam hidup ini, kita sering bimbang dan bertanya-tanya, apakah yang kita lakukan atau inginkan merupakan kehendak Tuhan atau bukan?


Untuk mendapatkan jawaban yang benar, kita TIDAK harus memohon tanda-tanda khusus dari Tuhan. Sebab, Tuhan telah menyatakan kehendak-Nya melalui hukum-hukum-Nya sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci.

Dengan membaca hukum-hukum-Nya, kita akan mendapatkan “tanda” dan “petunjuk”, apakah yang kita lakukan atau inginkan itu merupakan kehendak Tuhan atau bukan.

Selama yang kita lakukan atau inginkan itu tidak melanggar hukum-hukum Tuhan, kita dapat dengan tenang melakukannya, disertai permohonan dan keyakinan, bahwa Tuhan akan “turut bekerja” dalam semuanya itu, demi kebaikan kita. —Pdt. Em. Sutarno

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 12/11/2012 (dipersingkat)

==========

08 Oktober 2012

Memfitnah Tuhan

Dalam kisah (Nabi) Ayub, Tuhan murka kepada Elifas, Bildad dan Zofar, ketiga teman Ayub karena mereka memiliki dan mengajarkan pemahaman yang salah tentang Dia.

**Setelah Tuhan mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman Tuhan kepada Elifas, orang Teman: "Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub." (Ayub 42:7)**


Tuhan difitnah. Mereka mengatakan hal-hal yang kedengarannya baik, namun tidak tepat tentang Tuhan. Berdasarkan hal itu, mereka menyalahkan Ayub dengan penuh keyakinan.

Pemahaman akan Tuhan yang tidak tepat, yang kemudian disampaikan kepada orang lain, pada hakikatnya adalah fitnahan terhadap Tuhan.

Celakanya jika nasihat dan pengajaran yang demikian, banyak didengar oleh orang-orang yang ingin mencari Tuhan dengan tulus.

Banyak orang akan ikut memiliki pengenalan yang tidak tepat tentang Tuhan, lalu bisa kecewa atau menuntut sesuatu yang tidak pernah dikatakan atau dijanjikan-Nya.

Pemahaman seseorang akan Tuhan-nya pasti akan memengaruhi hidup kesehariannya. Tuhan seperti apakah yang kita kenal selama ini? Sesuaikah dengan penyataan Tuhan tentang diri-Nya di dalam Kitab Suci?

Seberapa banyak hidup kita dipengaruhi oleh pengenalan tersebut? Lalu, Tuhan seperti apa yang sedang kita ceritakan kepada orang lain melalui perkataan dan hidup kita? Yakinkah kita bahwa kita tidak sedang memfitnah Dia? --PBS

Kenali hal-hal yang benar dari Tuhan. Katakan hal-hal yang benar tentang Tuhan.

* * *

Sumber: e-RH, 8/10/2012 (dipersingkat)

==========

06 Oktober 2012

Fenomena Gunung Es

Gunung es adalah suatu bongkahan besar es air tawar yang telah terpecah dari gletser (akumulasi endapan salju yang membatu selama rentang waktu yang lama) dan mengambang di perairan terbuka.

Sekitar 80-90% volume gunung es berada di bawah permukaan air laut, besar, dan bentuknya sulit diperkirakan hanya berdasarkan apa yang tampak di permukaan.


Hati dan pikiran manusia juga bagaikan gunung es. Kompleks. Sulit ditebak hanya berdasarkan apa yang tampak di luar. Namun, bagi Tuhan tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya. Tuhan yang Mahatahu berkuasa menyelidiki hati, menguji pikiran, serta memperbaiki apa yang keliru di dalamnya.

Sering kali kita tampak "baik-baik saja" di luar, namun jikalau kita mau jujur dan mengizinkan Tuhan menyelidiki diri kita, ada banyak hal yang mesti kita tinggalkan, perbaiki, dan mohonkan pengampunan.

Dalam kesadaran akan ketidakberdayaan kita menghadapi "fenomena gunung es" di dalam diri, maukah kita dengan rendah hati berseru: "Tuhan Yang Maha Tahu, selidikilah diriku, dan tuntunlah aku di jalan-Mu"? --DEW

KATA HATI BISA SAJA MENIPU. MINTALAH DIUJI OLEH TUHAN YANG MAHATAHU.

* * *

Sumber: e-RH, 6/10/2012 (dipersingkat)

==========

02 Oktober 2012

Berdisiplin dengan Tujuan

Mungkin kita pernah terkagum-kagum melihat pemain musik yang hebat. Saya punya beberapa rekan musisi yang luar biasa sejak muda. Mereka seolah dilahirkan dengan keahlian itu. Namun, semua orang yang pernah mencoba main musik pasti tahu bahwa kepiawaian mereka tidak muncul begitu saja.

Ada ribuan jam latihan yang telah mereka lewati dengan penuh kedisiplinan sebelum akhirnya mereka "merdeka" memainkan nada-nada yang indah. Elton Trueblood berkata, "Disiplin adalah harga yang harus dibayar untuk mengalami kemerdekaan."

Disiplin berlatih adalah kuncinya. Kata "berlatih" dalam bahasa Yunani adalah gumnazo, yang juga merupakan asal kata Inggris gymnasium, tempat para olahragawan berlatih fisik. Tidak ada jalan pintas.


Tentu saja, menjadi orang yang disiplin bukan tujuan akhir. Latihan hanyalah sarana yang menjadikan kita leluasa dipakai Tuhan untuk membawa keselamatan dan pertumbuhan bagi banyak orang. Disiplin apa saja yang harus kita latihkan untuk mewujudkannya? --ELS

* * *

Sumber: e-RH, 2/10/2012 (dipersingkat)

-----

Baca juga:

Mozart pun Berlatih!

==========

01 Oktober 2012

Jemawa

Apakah arti “jemawa”? Jemawa itu congkak—menilai diri sendiri melebihi yang seharusnya. Jemawa itu sombong—merasa lebih baik dari orang lain, merasa memiliki kemampuan luar biasa dan mengagungkan diri sendiri.

Orang jemawa merasa tidak memerlukan siapa pun, Tuhan sekalipun. Sikap itu membuat Tuhan sedih. Orang jemawa harus berhati-hati jangan sampai Tuhan marah, seperti Ia marah kepada Lucifer, si setan yang dahulu adalah kepala para malaikat.

Tuhan menciptakan Lucifer sebagai malaikat yang cantik dan musisi berbakat. Namun Lucifer jemawa, berpikir bahwa dirinya jauh lebih baik dari para malaikat lainnya. Ia bahkan dengan sombong berpikir bahwa ia juga lebih baik dari Tuhan!

Tuhan marah, mengusirnya keluar dari surga seraya berkata, “Engkau sombong karena kecantikanmu, hikmatmu kaumusnahkan demi semarakmu. Ke bumi kau Kulempar” (Yehezkiel 28:17).

Kesombongan itu akan menghancurkan kita. Keluarga, karier, dan persahabatan hancur karena sikap itu. —Agus Santosa

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 1/10/2012 (dipersingkat)

==========

09 September 2012

Berlari Cepat

Eric Liddell, dalam film 'Chariots of Fire', menunda keberangkatannya sebagai misionaris ke China untuk berlari di ajang Olimpiade.


Jenny, adiknya, kesal atas keputusan itu. Mungkin ia menganggap olahraga lari sebagai sekadar aktivitas duniawi yang pantas dikorbankan demi suatu tugas yang lebih mulia.

Bagaimana tanggapan Eric? Ia menjawab, "Aku percaya Tuhan menjadikanku dengan suatu tujuan. Dia membuatku dapat berlari cepat, dan ketika aku berlari, aku merasakan kegirangan hati-Nya."

Sang ayah mendukungnya dengan berkata, "Eric, engkau dapat memuliakan Tuhan dengan mengupas kentang jika engkau mengupasnya dengan sebaik-baiknya."

Kebanyakan dari kita bersikap seperti Jenny: menilai hal-hal tertentu saja sebagai pelayanan rohani. Namun, sesungguhnya "untuk kesenangan hati Tuhan semuanya ada dan diciptakan."

Segala yang ada seharusnya menjadi ekspresi penyembahan untuk menyenangkan Sang Pencipta, bukan hanya hal-hal tertentu saja.

Anda merasa tugas harian Anda biasa-biasa saja, bahkan sepertinya tidak rohani? Tuhan merancang tiap-tiap orang berbeda, menempatkan kita di bidang-bidang yang khas di mana kita bisa melayani secara efektif.

Apakah Tuhan digirangkan dengan apa yang Anda kerjakan saat ini? —ARS

HAL APAKAH YANG KETIKA ANDA LAKUKAN, ANDA MERASAKAN KEGIRANGAN HATI TUHAN?

* * *

Sumber: e-RH, 9/9/12 (dipersingkat)

Judul asli: Dia Membuatku Berlari

==========

30 Agustus 2012

Impian Perlu Ujian

Sang pendiri "kerajaan" Honda – Soichiro Honda – selalu diliputi kegagalan. Ia tidak menyandang gelar insinyur. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru.

"Nilai saya jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya di sekitar mesin, motor, dan sepeda," tutur tokoh ini, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengidap penyakit lever.

Namun, jangan hanya melihat Honda dari keberhasilannya menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah KEGAGALAN-KEGAGALAN yang dialaminya.

"Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya," tuturnya.

Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu “Mulailah bermimpi, mimpikanlah impian baru.”

Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun ia terus bermimpi dan bermimpi...

IMPIAN PERLU UJIAN (seperti retorikanya Bung Karno)

kala impian membuat kita berbeda
kala cara pikir kita ditertawakan
kala senyuman kita di-sinis-i
kala warna semangat mulai luntur
kala impian membuat hati bias
justru teruslah maju dan berpegang
teruslah berpegang pada impian kita
bangunlah keyakinan demi keyakinan
bukankah layang-layang terbang tinggi
karena melawan arah angin
(tarik napas dalam-dalam dan tahan, lalu lanjutkan baca dengan keyakinan)
impian kita hanya perlu diuji untuk membangun keyakinan
(baca berikut ini sambil embuskan napas panjang)
keyakinan untuk mencapainya

* * *

Penulis: Hilman Sapta Ganda

Sumber: Sebuah ‘secret group’ di facebook

==========

29 Agustus 2012

Bahagia atau Tidak adalah Pilihan

Hidup bukan tentang apa yang harus kita punya agar bahagia, tapi bagaimana kita bahagia dengan apa yang kita punya.

Tony Scott, 68 tahun, sutradara film Top Gun, Beverly Hills Cop II, Enemy of The State, Spy Game, The Taking of Pelham 123, meninggal dunia setelah melompat dari jembatan Vincent Thomas di Los Angeles (Minggu, 19/8/12 waktu setempat). Ia meninggalkan sepasang anak kembar dan istri ketiganya.

Ternyata orang miskin, orang kaya, orang bodoh, orang pintar, orang gagal, orang sukses, semua punya masalah sendiri-sendiri dalam kehidupannya.

Kita sering terkagum-kagum melihat kesuksesan atau kehebatan seseorang, tanpa tahu berapa banyak sisi gelap dalam kehidupannya.

Kita mudah sekali tergiur dan iri terhadap seseorang, tapi tidak tahu kesedihan dan kesengsaraan dalam kehidupannya.

Mungkin bila kita tahu semuanya, kita tidak mau lagi jika ditawari bertukar posisi dengan orang lain, dan lebih bahagia menjadi diri kita sendiri.

Teman-teman, selamat menikmati dan bersyukur dalam kehidupan kita sendiri. Betapa perlunya kita melatih Pikiran Positif, agar kita punya mental kuat luar biasa dalam menghadapi kehidupan yang penuh dengan ketidakpuasan ini.

HAPPY or NOT is a CHOICE... CHOOSE WELL.

BAHAGIA atau TIDAK adalah PILIHAN... PILIHLAH DENGAN BAIK.

* * *

Penulis: Hilman Sapta Ganda

Sumber: Sebuah ‘secret group’ di facebook.

==========

25 Agustus 2012

Mewujudkan Panggilan Hidup

Seorang teman pernah menceritakan pergumulannya menjelang lulus kuliah. Ia sangat tergerak untuk mengajar anak-anak, tetapi orangtuanya mengharapkan ia meneruskan usaha keluarga.

Jika menolak, ia akan dianggap sebagai anak yang tidak berbakti. Jika menuruti, ia merasa tidak sedang mengerjakan panggilan hidupnya. Apa yang harus ia lakukan?

Cerita teman saya mungkin mewakili pergumulan banyak keluarga. Orangtua dan anak punya cita-cita yang berbeda. Mana yang harus diikuti?

Alangkah indahnya jika anak-anak dan orangtua bersama-sama mencari dan mengenali apa yang Tuhan ingin mereka kerjakan dalam hidup ini.

Anggota keluarga saling mendukung, saling melengkapi. Bukan aktualisasi diri atau cita-cita masa lalu (dari orangtua) yang jadi fokus, melainkan tujuan Tuhan, yang menciptakan tiap orang secara unik.

Pikirkanlah bagaimana Anda dan sesama anggota keluarga dapat mengenali panggilan Tuhan dalam hidup masing-masing, dan bagaimana Anda dapat saling menolong satu sama lain untuk mewujudkannya. --MEL

Ada panggilan unik yang Tuhan persiapkan bagi setiap orang. Dia mau kita menemukan itu dan hidup di dalamnya.

* * *

Sumber: e-RH, 25/8/12 (dipersingkat)

==========

24 Agustus 2012

Makna Hidup

Suka duka hidup, sering kali TIDAK bisa kita tebak. Apa yang menurut kita akan berjalan ke arah yang baik, bisa jadi berujung dengan keburukan. Apa yang kita sangka tidak menyenangkan, ternyata akhirnya sangat membahagiakan.

Tidak semua yang kita rencanakan pasti berhasil, karena hidup ini bukan hanya lurus tanpa belokan. Terlalu banyak RAHASIA ALLAH yang tidak kita ketahui. Kalau sekadar untuk makan atau minum, atau menyambung nyawa, Allah akan memberikannya untuk orang beriman maupun orang kafir.

Tetapi soal berkah, pembelaan Allah, karunia, pahala, bimbingan, petunjuk, penghargaan, bahkan janji surga, itu hanya diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang MUKMIN. Bagi seorang mukmin, hidup tidak sekadar mengisi perut dan menyambung napas.

Ada pe-MAKNA-an yang jauh lebih tinggi, terhormat, dan mengantarkan kita pada harga diri kemanusiaan yang paling tinggi yaitu sebagai KHALIFAH, wakil Allah di muka bumi, yang tugasnya beribadah kepada Allah, memakmurkan bumi, dan menegakkan agama-Nya.

* * *

Penulis: Hilman Sapta Ganda

Sumber: Sebuah ‘secret group’ di facebook.

==========

14 Agustus 2012

Air Mata

Seorang teman saya bertanya, “Ketika kamu melihat seorang pria yang duduk di depan warung makan di pinggir jalan sedang menitikkan air mata, kira-kira pria itu sedang menangisi apa? Apakah yang sedang dialaminya merupakan hal yang baik atau buruk?”

Tentu saja saya tidak bisa menjawab langsung hanya dengan melihat linangan air mata. Karena linangan air mata merupakan tanda-tanda dari banyak sekali emosi di dalam. Ada yang merupakan representasi rasa sedih yang mendalam. Ada yang merupakan ungkapan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan. Ada juga yang mewakili kebahagiaan yang mendalam, ataupun rasa haru.

Tentunya tidak ada yang melarang atau berargumentasi terkait apa saja air mata mengalir. Entah benar atau salah, ada yang mengatakan bahwa air mata itu tanda dangkalnya hati kita. Tetapi ada juga yang mengatakan justru dengan keluarnya air mata menandakan kedalaman hati kita, tanda relung hati yang terlalu peka.

Tokoh-tokoh terkenal juga pernah menangis. Menitikan air mata adalah sesuatu yang wajar dan manusiawi. Air mata menandakan bahwa kita adalah manusia yang memiliki kedalaman emosi.

Firman Tuhan mengatakan bahwa setiap tetesan, linangan air mata kita, dipedulikan bahkan diperhitungkan-Nya. Air mata sebagai salah satu tanda keberadaan emosi dari kedalaman batin, entah itu air mata bahagia ataupun kesedihan.

Betapa kita bersyukur memiliki Tuhan yang begitu peduli dengan kedalaman batin kita. Curahkanlah air matamu di hadapan-Nya. Dia peduli dengan air matamu. —Lydia Ong

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 14/8/12 (dipersingkat)

==========

12 Agustus 2012

Simpati vs Empati

Di televisi beberapa kali terlihat seorang pejabat masuk ke perkampungan kumuh, lalu mencoba makan nasi bungkus dan menggendong seorang anak yang kumal.

Kesan bahwa ia bersimpati dan merasakan penderitaan kaum miskin telah ia buat dalam sehari itu. Namun, seberapa jauh pengalaman itu membekas dalam hidupnya?

Benarkah ia sungguh dapat merasakan penderitaan kaum tertindas dengan tindakan tersebut?

Kita biasanya menghargai seseorang yang mampu membayangkan penderitaan kita dan bersimpati karenanya. Namun, kita akan lebih merasa dekat dengan seseorang yang pernah merasakan penderitaan yang sama sehingga ia mampu berempati.

KESIMPULAN: Empati lebih dalam penghayatannya daripada simpati. Simpati itu sekadar turut merasakan, sedangkan empati pernah merasakan penderitaan yang sama.

==========

10 Agustus 2012

Mahakarya

Istilah mahakarya biasanya dipakai untuk menyebut karya-karya berbobot tinggi dan diakui publik sepanjang masa. Dalam bidang seni, sebut saja lukisan Leonardo Da Vinci, pahatan Michelangelo, atau lagu-lagu Chrisye yang belakangan sering dikonserkan.

Karya-karya sebagus itu tak hanya membuat penciptanya dipuji, tetapi juga memicu orang meniru, atau membuat replikanya, untuk disebarluaskan. Sebagian bahkan dimuseumkan agar generasi mendatang bisa mengetahui bahwa pernah ada karya sebagus itu.

Apakah kita menyadari bahwa tiap hari kita sebenarnya diperhadapkan dengan mahakarya Tuhan? Hari ini ada lebih dari 7 miliar manusia yang memenuhi dunia; masing-masing dengan sidik jari, ukuran, warna kulit, dan kepribadian yang berbeda.

Mahakarya mana di dunia ini yang bobotnya menyamai bobot mahakarya Tuhan? Bagaimana kesadaran akan hal ini memengaruhi sikap kita terhadap Tuhan dan sesama?

Bagaimana agar generasi kita dan yang akan datang juga ikut menyadari dan memberi penghargaan yang semestinya terhadap Tuhan dan mahakarya-Nya? --ELS

MAKIN DALAM KITA MENGENAL BOBOT KARYA DAN PRIBADI TUHAN, MAKIN BESAR PENGHORMATAN DAN KASIH KITA KEPADA-NYA.

* * *

Sumber: e-RH, 10/8/12 (dipersingkat)

Judul asli: Mahakarya Tuhan

==========

14 Juni 2012

Halaman Kehidupan

Putri Sayako yang akrab dipanggil Putri Nori, anak perempuan satu-satunya Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko, memilih untuk meninggalkan istana. Ia memutuskan menikah dengan Yoshiki Kuroda, seorang pemuda rakyat biasa, bukan dari kalangan kerajaan.

Menikah dengan warga kebanyakan membuat Sayako kehilangan perlakuan istimewa sebagai keluarga kaisar Jepang. Ia harus menghadapi kehidupan di luar istana. Ia kehilangan gelar bangsawan, tunjangan kerajaan, dan wajib membayar pajak.

Saat meninggalkan istana, Sayako memperoleh semacam “emas kawin” dari negara sebesar 1,2 juta USD. Satu hal yang membuatnya melangkah ringan adalah restu kedua orangtuanya. Kaisar juga memastikan bahwa hubungan keluarga mereka takkan pernah berubah.

Tetapi Sayako yang tidak lagi bisa kembali ke istana. Ia tidak bisa menjadi duta negara, tidak bisa menerima kunjungan tamu kenegaraan, dan tidak bisa mewakili istana berkunjung ke negara-negara sahabat. Sayako memilih meninggalkan istana untuk memulai kehidupan baru sebagai rakyat biasa, dan kini dia dikenal sebagai Sayako Kuroda.

Kisah Sayako mengingatkan kita bahwa menjalani kehidupan ini seperti membaca sebuah buku, kita harus berpindah dari satu halaman ke halaman berikutnya. Dari halaman kehidupan yang telah kita tinggalkan, kita memasuki halaman kehidupan yang baru. Setiap kali kita meninggalkan kehidupan lama menuju yang baru, kita harus melepaskan yang lama.

Sudah pasti setiap halaman kehidupan selalu memiliki tantangan yang berbeda, tetapi kita tidak perlu takut, kita bisa belajar dari Daud, nasihatnya: “Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.”

Ya, jika kita selalu berserah dan berpaut kepada Tuhan, niscaya sukacita dan damai sejahtera merahmati hidup kita. —Agus Santosa

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 14/6/12 (dipersingkat)

==========

06 Juni 2012

Mengingat Tuhan

Pada suatu hari bulir-bulir beras datang menghadap Tuhan dan berkata, “Tuhan semesta alam, aku adalah makanan pokok manusia, mengapa Engkau tidak menciptakan aku sedemikian agar manusia dapat lansung menyantapku? Mengapa mereka harus terlebih dahulu menanam, menyiangi, memanen, dan menanak menjadi nasi barulah mereka dapat menyantapnya? Bukankah semua ini suatu pemborosan waktu dan tenaga saja?”

“O, tentu bukan pemborosan,” jawab Tuhan. “Aku memang menghendakinya demikian demi kebaikan manusia dan kebaikanmu sendiri.” Buru-buru bulir padi menimpali, “Kok bisa?”

Kata Tuhan lagi, “Aku membuatmu tidak dapat langsung dimakan manusia agar engkau tidak berkeliling menyombongkan dirimu bahwa engkaulah satu-satunya yang dapat memberi kehidupan dan kekuatan kepada manusia atau dengan sombong mengumumkan bahwa tanpa dirimu tak seorang pun dapat makan. Manusia tidak dapat begitu saja memetik bulir-bulirmu dan memakannya. Mereka harus menanaknya terlebih dahulu menjadi nasi. Dan untuk melakukan itu mereka membutuhkan api, air, dan tangan-tangan mereka.”

“Bagi manusia sendiri,” lanjut-Nya, “Tidak baik bagi mereka untuk menemukan makanan yang sudah siap santap di atas meja. Mereka harus terlibat dalam menghasilkannya. Mereka harus membajak, menabur, menyiangi, menyirami, memanen, dan menanaknya menjadi nasi. Itu baik bagi manusia karena membuat mereka merasa bahwa mereka bergantung kepada-Ku” (ide cerita oleh Willi Hoffsuemmer).

Kita belajar dari cerita ini untuk mengingat Tuhan, Sang Pemberi makanan, bahwa makanan itu berkat dari Tuhan. Barangkali kita memang tidak perlu menebar benih, menyiangi, memanen, bahkan menanak nasi pun tidak. Makanan selalu siap terhidang di atas meja. Tetapi bahwa makanan itu ada, bukan tiba-tiba ada seperti sulap, sim salabim. Ada orang-orang yang mengerjakannya. Kita belajar menghargai orang-orang di belakang sepiring nasi yang kita makan setiap hari. Bagaimana mereka bersusah payah menyediakannya bagi kita.

Setiap kali kita makan marilah kita mengingat barang sejenak bahwa tersedianya makanan ini memiliki perjalanan panjang, menghargai mereka, dan tentu menghargai Sang Pencipta. Kecuali itu kita juga belajar untuk tidak membuang-buang makanan dan makan secukupnya. Itulah makna doa, “Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Bukan sekadar berkat yang kita minta, melainkan utamanya dengan rendah hati mengakui Dia, Sang Pemberi berkat. Bahwa tanpa-Nya, tidak mungkin kita mendapat makanan tiap-tiap hari. —Liana Poedjihastuti

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 6/6/12 (diedit sedikit sekali)

==========

31 Mei 2012

Kerja dengan Gembira

“Senang bekerja di sini?” tanya saya kepada seorang Reflexology & Foot Spa therapist yang sedang melaksanakan tugasnya. “Tidak,” katanya terus terang. Lalu dia bercerita bahwa dia telah salah pilih. Dia mengira pilihannya itu adalah pekerjaan di salon kecantikan. Tetapi apa daya, dia sudah terlanjur mengikuti training dan terikat kontrak kerja selama dua tahun.

Saya menangkap nada sendu dalam ceritanya. Mendengar kisahnya, saya merasa terenyuh, membayangkan betapa tersiksanya dia harus mengerjakan sesuatu yang tidak disukainya. Sesungguhnya, terkait pekerjaan, tidak ada hal yang lebih membahagiakan daripada melakukan pekerjaan yang disukai. Sebab hal itu akan mendatangkan kegembiraan.

Banyak di antara kita yang terperangkap dalam pekerjaan yang tidak disukai, terpaksa melakukan pekerjaan itu karena tidak memiliki pilihan lain. Lalu bagaimana? Barangkali cerita William Barclay, teolog dan penulis kelahiran Glasgow, dapat menginspirasi kita.

Barclay mengenal seorang pria yang dianggapnya paling bahagia, karena dia sangat bahagia dengan pekerjaannya. Pria ini bekerja di sebuah bengkel di kota tempat tinggalnya. Dia bukan seorang montir, dia hanya seorang pencuci mobil.

Bayangkan mencuci kendaraan kotor enam hari dalam seninggu! Tetapi, betapa bahagia pria ini dengan pekerjaannya itu. Dia mencuci mobil dengan sungguh-sungguh, bahasa sekarang barangkali “mencuci dengan hati”, sehingga mobil-mobil itu terlihat begitu bersih mengkilat. Karunianya adalah karunia untuk mencuci mobil. Betapa ia menggunakan karunia itu dan berbahagia karenanya.

Barclay mengakhiri kisahnya dengan keyakinan bahwa seorang kondektur bus bisa menarik karcis Anda dengan cara yang membuat seluruh hari Anda cerah. Seorang pramuniaga bisa melayani Anda sedemikian rupa sehingga dunia ini menjadi tempat yang lebih baik.

Bagaimana dengan Anda, apakah Anda terjebak dalam pekerjaan yang tidak Anda sukai? Ataukah Anda berbahagia dengan pekerjaan Anda? Mencoba mencintai pekerjaan adalah saran yang biasa kita dengar. Tetapi sebuah nasihat yang lebih baik mengatakan, agar kita bekerja seperti orang yang melayani Tuhan bukan manusia.

Jika nasihat itu kita laksanakan, kita akan merasa gembira. Dan bukan hanya itu, kita juga akan menerima balasannya dari Tuhan.

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 31/5/12 (diedit seperlunya)

==========

07 Mei 2012

Tuhan Adalah Penuntun yang Agung

Setiap manusia pasti akan merasakan kekuatiran tatkala menghadapi masa depan yang tidak pasti. Memang manusia bukanlah ciptaan yang maha tahu, sehingga masa depan baginya adalah suatu keadaan yang misterius.

Lalu berdasarkan kemampuan analisis yang Tuhan berikan, manusia mencoba memahami siklus alam, sebab-akibat, dan menarik kesimpulan darinya agar dapat memprediksi kondisi kehidupannya di masa depan.

Kadang-kadang kita kuatir tentang masa depan kita, apalagi jika kekuatiran itu berhubungan dengan kesehatan, keberhasilan, dan keturunan kita. Sebagai manusia yang terbatas, kita tidak mungkin dapat mengingkari kekuatiran tersebut.

Kabar baiknya, Tuhan tidak pernah membiarkan umat-Nya berjalan sendiri tanpa tuntunan-Nya. Masalahnya, maukah kita mengikuti tuntunan Tuhan?

Janganlah kuatir akan tuntunan Tuhan, tetapi kuatirlah jika kita tidak menaati kehendak-Nya, sebab ketidaktaatan kitalah yang sering kali membuat kita tidak dapat memahami tuntunan-Nya.

* * *

Sumber: Perspektif, 6/5/12 (dipersingkat)

==========

05 Mei 2012

Pidato Steve Jobs: “Stay Hungry. Stay Foolish.”

Berikut ini adalah cuplikan pidato Steve Jobs dalam acara wisuda di sebuah universitas di Amerika.

----------

Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah. Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.

Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik

Anda tidak akan dapat merangkai titik-titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimanapun akan terangkai di masa mendatang.

- - -

Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan

Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda.

Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya.

- - -

Cerita Ketiga Saya: Kematian

----------

Silakan tonton video dan baca tulisan utuhnya di sini...

==========

04 Mei 2012

Tujuan Hidup

Suatu pagi pada tahun 1888, Alfred Nobel, penemu dinamit, terhenyak kaget membaca berita kematiannya di sebuah surat kabar. Yang membuatnya kaget bukan karena berita kematiannya itu, sebab dia tahu dirinya masih hidup, melainkan apa yang tertulis di situ tentang dirinya.

Untuk pertama kalinya Alfred Nobel melihat dirinya menurut pandangan dunia terhadapnya: “raja dinamit”, tidak lebih dari itu. Dia hanya dikenal sebagai “pedagang kematian”, mengumpulkan kekayaan dengan memproduksi dan menjual senjata perusak. Sebetulnya yang meninggal adalah saudaranya, tetapi wartawan salah menuliskan nama.

Alfred Nobel merasakan kengerian yang luar biasa dengan pemahaman ini. Hal itulah rupanya yang kemudian mendorongnya memutuskan agar dunia mengetahui tujuan hidupnya. Ia pun menulis surat wasiatnya, menyerahkan kekayaannya untuk membuat hadiah paling bergengsi, hadiah Nobel Perdamaian. Saat ini dunia mungkin tidak ingat lagi hubungan antara namanya dengan dinamit.

Tujuan hidup merupakan motivator yang membimbing, menggerakkan, mengarahkan seseorang untuk bertindak dan bersikap. Jika seseorang memiliki tujuan hidup, maka ia akan mengisi hidupnya dengan tindakan-tindakan guna mencapai tujuan hidup itu.

Bagaimana dengan kita, apa tujuan hidup kita? Mengumpulkan harta duniawi sebanyak-banyaknya? Mengejar sukses dengan menghalalkan segala cara? Mencari kesenangan dan kenikmatan dunia? Melayani Tuhan? Menjadi berkat bagi sesama? Ikut menciptakan dan memelihara perdamaian?

Ketika nanti kita telah pergi meninggalkan dunia ini, kita ingin dikenal dan dikenang sebagai apa?

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 4/5/12 (sedikit dipersingkat)

==========

Posting Terbaru

Langganan Updates

Untuk berlangganan updates semua blog berbahasa Indonesia saya, silakan isi formulir di BLOG UTAMA.

NB: Satu formulir untuk semua blog.

Pemilik Blog

Foto saya
• Infopreneur, Online Publisher
• Penerjemah buku Retire Young Retire Rich karya Robert T. Kiyosaki & Sharon L. Lechter, dan banyak buku lainnya.